Makalah Analisis Pembatalan Hukuman Mati Dalam Kasus Hanky Gunawan






Analisis Pembatalan Hukuman Mati Dalam Kasus Hanky Gunawan

Dosen pengampu :      1. Anis Widyawati, S.h., M.h.
               2. Diandra Preludio Ramada, S.h., M.h.

Disusun Oleh :
Nama               : Raka Widhi Nugroho
NIM                : 8111417314
Mata kuliah      : Pengantar Filsafat Hukum
Rombel            : 07
No Absen         : 15

 Fakultas Hukum
Universitas Negeri Semarang
                                                                  2017    

Kronologi
Hangky Gunawan adalah seorang wiraswastawan asal Surabaya. Ia dikenal sebagai seorang gembong narkoba yang pernah ditangkap dan dijatuhi hukuman penjara oleh pengadilan negeri Belanda karena kasus pengedaran narkoba. Hangky dicurigai memiliki prabrik narkotika jenis ektasi dan heroin. Pabrik itu sendiri dijalankan di kediamannya di Jalan Golf Famili Barat III Komplek Graha Famili Blok M No. 35 Surabaya. Pihak kepolisian reserse kriminal narkoba menemukan dari rumah tersebut sekian banyak ember 25 liter yang berisi zat-zat kimia sejenis MDMA (psikotropika) yang diduga digunakan Hangky untuk memproduksi narkotika. Selain itu, juga ditemukan berbungkus-bungkus plastik yang berisi serbuk putih sejenis heroin dan zat-zat psikotropika.
Pada akhir Februari 2006 sampai dengan Maret 2006 berturut-turut sampai empat kali Terdakwa HANKY GUNAWAN alias HANKY dengan LINGSO DIREJO dan SUWARNO telah datang ke sebuah rumah dijalan Jalan Golf Famili Barat III Komplek Graha Famili Blok M No. 35 Surabaya yang disewa LINGSO DIREJO selanjutnya di dalam rumah tersebut Terdakwa bersama LINGSO DIREJO menuangkan cairan zat atau bahan kimia (yang telah mereka siapkan di dalam jerigen-jerigen) ke dalam tabung pemanas listrik atau alat penyuling berupa tabung yang bernama water destiler (alat tersebut dipesan Terdakwa dan LINGSO DIREJO dari SUBEKTI SOEHARTO) kemudian dipanaskan sampai temperatur air mendidih dalam tenggang waktu 2 sampai dengan 3 jam yang ditunggu oleh SUWARNO selama proses berlangsungnya penyulingan, setelah tenggang waktu 3 jam Terdakwa dipanggil oleh SUWARNO kemudian mesin dimatikan supaya bahan campuran menjadi dingin dan setelah dingin bahan campuran tersebut dikeluarkan melalui kran yang ada di tabung pemanas tersebut selanjutnya ditampung dalam ember stainles steel kemudian didinginkan selanjutnya dicampur cairan putih (aceton) kemudian diaduk sampai campur benar. Selanjutnya campuran tersebut dimasukkan tabung stainless steel ada tutupnya dan ada selangnya dan dihubungkan dengan kompresor kemudian kompresor dinyalakan dan dari tabung yang ada di bawahnya ada krannya tersebut keluar cairan. Setelah cairan habis maka pompa kompresor dimatikan selanjutnya tutup tabung dibuka di dalamnya ada sisa berupa seperti lumpur warna hitam yang berarti pencampuran gagal sehingga tidak bisa dicetak menjadi pil ekstacy.

Pada tanggal 13 Oktober 2005 Terdakwa telah membuka rekening tabungan tahapan tambahan pada Bank Central Asia (BCA) cabang Tanah Abang Jakarta dengan nomor rekening tersebut yang atas nama Terdakwa pada tanggal 20 Januari 2006 telah menerima pentransferan uang dari JOY KUSUMA alias ALOY alias HARI dengan Nomor Rekening BCA 0120135392 sebesar Rp60.000.000,- dan menerima pentransferan dari JOY KUSUMA alias ALOY dengan Nomor Rekening 5451059473 sebesar Rp500.000.000,- dan menerima pemindahan buku dari rekening JOY KUSUMA alias ALOY dengan Nomor Rekening 5450059473 sebesar Rp500.000.000,- dimana pentransferan yang diterima oleh Terdakwa pada rekening Terdakwa dengan Nomor Rekening 03691098999 tersebut telah diketahui oleh Terdakwa yang merupakan hasil tindak pidana yaitu sebagai pembayaran atas pengiriman atau penjualan ekstacy oleh Terdakwa kepada Christian Salim alias Awe pada bulan Oktober, November 2005 dan Januari 2006, dimana pentransferan yang dilakukan JOY KUSUMA tersebut atas perintah Liam Marita alias Aling atas suruhan Christian Salim yang telah melakukan transaksi narkoba jenis ekstacy dengan Terdakwa yang selanjutnya uang yang diterima Terdakwa dari pentransferan tersebut telah digunakan untuk kepentingan pribadi Terdakwa.
Terdakwa didakwa dengan bentuk Dakwaan Alternatif, Dakwaan Pertama melanggar Pasal 59 ayat (1) huruf b jo. Pasal 59 ayat (2) Undang-Undang RepubIik Indonesia No. 5 Tahun 1997 tentang Psikotropika jo. Pasal 64 ayat (1) KUHP. Dakwaan Kedua melanggar Pasal 59 ayat (1) huruf b jo. Pasal 55 ayat (1) ke-1 jo. Pasal 64 ayat (1) KUHP, Dakwaan Ketiga melanggar Pasal 59 ayat (1) huruf b jo. Pasal 69 Undang-Undang RepubIik Indonesia No. 5 Tahun 1997 tentang Psikotropika jo. Pasal 55 ayat (1) ke-1 jo. Pasal 64 ayat (1) KUHP, Dakwaan Keempat melanggar Pasal 59 ayat (1) huruf c Undang-Undang RepubIik Indonesia No. 5 Tahun 1997 tentang Psikotropika jo. Pasal 55 ayat (1) ke-1 jo. Pasal 64 ayat (1) KUHP, Dakwaan Kelima melanggar Pasal 6 ayat (1) sub b Undang-Undang RepubIik Indonesia No. 15 Tahun 2002 tentang Tindak Pidana Pencucian Uang.




Putusan

Putusan Pengadilan Negeri No. 3412/Pid.B/2006/PN.SBY:
Menyatakan Terdakwa tidak terbukti secara sah dan meyakinkan menurut hukum bersalah melakukan tindak pidana sebagaimana dalam dakwaan alternatif pertama, Menyatakan Terdakwa telah terbukti secara sah dan meyakinkan menurut hukum bersalah melakukan tindak pidana sebagaimana dimaksud dalam dakwaan kedua, Mengedarkan Psikotropika golongan I tidak memenuhi ketentuan sebagaimana dimaksud dalam dakwaan keempat serta, Menerima atau menguasai pentransferan harta kekayaan yang diketahuinya atau patut diduganya merupakan hasil tindak pidana, secara berlanjut dalam dakwaan kelima, dan Menghukum Terdakwa oleh karena itu dengan pidana penjara selama 15 (lima belas) tahun dan denda sebesar Rp. 500.000.000,- (lima ratus juta rupiah) subsidair selama 4 (empat) bulan kurungan.
Putusan Pengadilan Tinggi No. 256/Pid/2007/PT.SBY:
Menerima permintaan banding dari Jaksa/Penuntut Umum dan Penasihat Hukum Terdakwa tersebut, Memperbaiki putusan Pengadilan Negeri Surabaya No. 3412/Pid.B/2006/PN.Sby, yang dimintakan banding tersebut, sekedar mengenai pidana yang dijatuhkan kepada Terdakwa, sehingga amarnya, Menjatuhkan pidana kepada Terdakwa dengan pidana penjara selama 18 (delapan belas) tahun, dan denda sebesar Rp.600.000.000,- (enam ratus juta rupiah), dengan ketentuan apabila denda tidak dibayar, maka diganti dengan hukuman kurungan selama 6 (enam) bulan, dan Menguatkan putusan Pengadilan Negeri Surabaya tersebut untuk selain dan selebihnya.
Putusan Mahkamah Agung No. 455 K/Pid.Sus/2007:
Mengabulkan permohonan kasasi dari Pemohon Kasasi : Jaksa/ Penuntut Umum Pada Kejaksaan Negeri Surabaya tersebut, membatalkan putusan Pengadilan Tinggi Surabaya No.256/PlD/2007/PT.SBY, yang memperbaiki putusan Pengadilan Negeri Surabaya No.3412/Pid.B/2006/PN.SBY.
MENGADILI SENDIRI : Menyatakan Terdakwa telah terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana secara bersama-sama dan berlanjut memproduksi dan/atau menggunakan dalam proses produksi Psikotropika Golongan I sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 secara terorganisasi, mengedarkan Psikotropika golongan I tidak memenuhi ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 12 ayat (3) dan melakukan Tindak Pidana Pencucian Uang; dan Menjatuhkan pidana oleh karena itu kepada Terdakwa dengan Pidana Mati.
Mengabulkan permohonan peninjauan kembali dari Terpidana, Membatalkan putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia No. 455 K/Pid.Sus/2007, jo putusan Pengadilan Tinggi Surabaya No. 256/Pid/2007/PT.SBY, jo putusan Pengadilan Negeri Surabaya No.3412/Pid.B/2006/PN.SBY;
MENGADILI KEMBALI :
Menyatakan Terdakwa tersebut di atas tidak terbukti secara sah dan meyakinkan menurut hukum bersalah melakukan tindak pidana memproduksi dan/atau menggunakan dalam proses produksi Psikotropika golongan I yang dimaksud dalam Pasal 6 Undang-Undang Republik Indonesia No. 5 Tahun 1997 tentang Psikotropika, yang dilakukan secara terorganisir sebagaimana tersebut dalam dakwaan alternatif pertama ; Membebaskan oleh karena itu Terdakwa dari dakwaan alternatif pertama tersebut ; Menyatakan Terdakwa telah terbukti secara sah dan meyakinkan menurut hukum bersalah melakukan tindak pidana “Melakukan atau turut serta melakukan” memproduksi dan/atau menggunakan dalam proses produksi Psikotropika golongan I sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 Undang-Undang Republik Indonesia No. 5 Tahun 1997 tentang Psikotropika secara berlanjut, sebagaimana tersebut dalam dakwaan kedua dan ; Mengedarkan Psikotropika golongan I tidak memenuhi ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 12 ayat (3) Undang-Undang Republik Indonesia No. 5 Tahun 1997 tentang Psikotropika dalam dakwaan keempat serta ; Menerima atau menguasai pentransferan harta kekayaan yang diketahuinya atau patut diduganya merupakan hasil tindak pidana, secara berlanjut dalam dakwaan ke lima tentang tindak pidana pencucian uang ; Menghukum Terdakwa oleh karena itu dengan pidana penjara selama 15 (lima belas) tahun dan denda sebesar Rp500.000.000,- (lima ratus juta rupiah) subsidair selama 4 (empat) bulan kurungan.
Kejanggalan kasus :
Hengky diseret ke meja hijau dan dimulailah drama hukum yang menggegerkan jagat peradilan Indonesia. Hengky awalnya dihukum 15 tahun penjara oleh Pengadilan Negeri (PN) Surabaya dan dinaikkan menjadi 18 tahun penjara oleh Pengadilan Tinggi (PT) Surabaya. Di tingkat kasasi, Hengky dihukum mati oleh hakim agung Iskandar Kamil, hakim agung Prof Komariah Emong Sapardjaja dan hakim agung Prof Dr Kaimuddin Salle.

            Puncak drama hukum terjadi di tingkat PK. Kala itu, Hengky mengajukan PK dan dikabulkan pada 2011. Majelis PK yang terdiri Imron Anwari, Hakim Nyak Pha dan Ahmad Yamani menganulir hukuman mati Hengky. Saat berkas putusan PK dikirim dari MA ke PN Surabaya, Ahmad Yamani tiba-tiba 'membegal' putusan tersebut dan mencoret hukuman 15 tahun penjara menjadi 12 tahun penjara.
Skandal pemalsuan putusan ini membuat masyarakat terkaget-kaget. Mahkamah Agung (MA) dan Komisi Yudisial (KY) lalu membuat Majelis Kehormatan Hakim (MKH) dan memecat Yamani pada Desember 2012. Yamani menjadi sejarah baru sepanjang indonesia merdeka.










Analisis
Menurut pendapat saya , Indonesia pada dasarnya tidak menghapus hukuman mati. Hukuman dengan vonis eksekusi mati biasanya diperuntukkan bagi kejahatan-kejahatan yang termasuk dalam tindak pidana khusus, baik tindak pidana korupsi, tindak pidana narkotika, dan tindak pidana terorisme. Salah satu alasan tetap diberlakukannya hukuman mati terhadap gembong narkoba adalah karena narkoba dapat merusak masa depan generasi muda.
Hanky dengan pabrik yang dimiliki dan pengalaman internasional berbisnis narkoba pasti kaya raya. Dia bukan sekedar kurir ecek ecek. Status gembong narkoba pantas disematkan ke dirinya. Orang dengan skill bisnis narkoba seperti Hanky pastinya bisa membuat tergiur aparat untuk berkolusi. Network yang sudah dia bangun sangat mendukung. Kemampuannya bisa dimanfaatkan untuk mengeruk keuntungan dari bisnis haram ini. Tapi mengapa kok hukuman mati ini dibatalkan? Sebagai perbandingan ada kasus Mary Jane yang mana ia kurir narkoba yang tertangkap pada 25 April 2010 di bandara Adi Sutjipto Yogyakarta. Setelah melalui persidangan wanita Filipina ex prt ini dijatuhi vonis hukuman mati. Kurir miskin ini kontras dengan Hengky Gunawan. Dia tidak punya uang, tidak punya network yang akan menyelamatkan nyawanya.
Penyelamatan nyawa Hanky mengalami puncak pada , saat berkas putusan PK dikirim dari MA ke PN Surabaya, Ahmad Yamani tiba-tiba “membegal” putusan tersebut dan mencoret hukuman 15 tahun penjara menjadi 12 tahun penjara, ia mengaku tidak membaca kembali draf putusan yang dia tandatangani. Lantas adakah “kolusi” di dalam kasus Hanky?  tidak terdapat cukup bukti ada pelanggaran kode etik berupa unsur penyuapan. Sebab, semestinya peninjauan kembali (PK) hanya menerima atau menolak permohonan saja, bukan mengurangi putusan.
Penyelamatan nyawa gembong narkoba ini tentu akan menjadi sorotan masyarakat. Karena itu harus dicarikan akal supaya tidak terlalu terlihat mencolok. Salah satu jalan adalah melaksanakan eksekusi terhadap kurir narkoba kelas teri seperti Mary Jane. Dibuatlah rilis bahwa yang dieksekusi itu adalah gembong narkoba. Dengan cara seperti ini masyarakat akan puas dan menganggap gembong narkoba memang benar dieksekusi. Secara tidak sadar pengalihan – pengalihan ini sepertinya sudah terjadi.
Inilah sedikit gambaran hukum di indonesia, kasus yang seperti inilah yang perlu dikritisi, dibahas, dipublikasikan agar masyarakat tahu dan membuat penegak hukum khususnya hakim  sadar bahwa ialah wakil Tuhan di dunia. Kebijaksanaannya diperlukan disini. Saya pribadi berharap agar tidak terjadi lagi kasus macam begini karena memalukan, masa gembong narkoba “bersekongkol” dengan hakim. Juga menurut saya gembong – gembong narkoba bila dirasa perlu dihukum mati ya dihukum mati saja. Sebab melaui mereka lah generasi muda dapat rusak karena terjerumus narkoba. Hakim pun juga jika ada hakim yang terbukti melakukan kolusi maka seharusnya ada tindakan tegas. Untuk kasus Yamanie sekarang memang sudah diberhentikan. Memang tidak semua hakim seperti itu, akan tetapi ada satu saja yang bersekongkol dengan para penjahat maka penilaian masyarakat terhadap hakim pun juga buruk.          













Sumber :
 1. http://www.kompasiana.com/wilwo/kurir-narkoba-dieksekusi-untuk-menyelamatkan-gembong_55484e66547b61e00f2523c8
2.   https://news.detik.com/berita/2096517/-bagaimana-sosok-bandar-narkoba-hengky-gunawan-di-mata-penyidik
3. https://news.detik.com/berita/3226946/putusan-mk-dan-nasib-pemalsuan-vonis-gembong-narkoba-hengky-gunawan
4. http://putusan.mahkamahagung.go.id/putusan/c135dde61b245a0f0c23121dd82b3923
         







0 Response to "Makalah Analisis Pembatalan Hukuman Mati Dalam Kasus Hanky Gunawan"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel