Kumpulan Puisi 2018 Karya Ahmad Dzikron Haikal

Risalah Negeri Laut

1/
       Di atas perahu-perahu yang karam, manusia menuju ke langit hitam. Tubuhnya menjadi pasang, dan gamang. Tampaknya mereka lupa berpesta. Sebab tembulan masih dalam penantian.
2/
       Nyi Snetring menulam senja di bawah bayang-bayangnya, sembari dikitari bangkai ikan dan makanan. Bocah-bocah bermain layang-layang dengan ragu, saat sungai-ungai menjadi pekat, dan sebuah riwayat menepi ke arah gelap
3/
       Jika kau gelisah dari segala yang berlalu, sebelum kau bermuara, lihatlah tubuh-tubuh yang tersangkut kayu dari jauh itu. Barangkali sosok bersayap pusara hadir memeluk wajahmu, dibalik tirai dedaunan yang terbentang semu.
4/
       Tak ada seorang perempuan yang mampu mengenal diagram tulang. Sebab api membakar seluruh kata-kata yang tertulis dari sebuah puisi. Lantas apakah kau akan kembali di benakku dengan sebutan perempuan berambut senja?
5/
       Ada yang tersembunyi di atas buih-buih yang berdebar, dibalik punggung Mahera burung camar berlarian menghitung debur ombak. Dan aku menghempaskan diri, setelah lama menanti.
6/
       Seorang lelaki berpenci melati membawa secangkir matahari sebelum pagi buta, ketika kita terlelap di atas gelombang. Ia kenang masa lampau sembari mengunyah cerita tentang segala kerinduan yang terlarung di samudra pada malam purnama Senin pahing, di dermaga tua.


Balada Nyi Sentring

       Malam adalah penantian bagi keresahan. Di kemerangan, seorang perempuan melukis surga tanpa warna. Tuha  selesai ia tawar. Kedua tangannya menggengam cahaya yang gemetar. Di balik tubuhnya menjulang pusara dari waktu ke waktu dan sosok berjubah kelam di sebuah kolam.
       Rembulan meredup, membekap sebuah bambu yang pura-pura bisu. Menjadi pertanda: malam menjalang di kening Nyi Sentring yang tak pernah tengadah. Wajahnya musam. Bintang-bintang meleleh di pelipisnya, menjadi benih ketiadaan.
       Nyi Sentrimg mungkin segumpal tanah. Matanya menggaris kenyataan dengan selendang berwarna keemasan., dann berbisik madu di sepanjang air bergelimang.
       Perempuan itu juga sebuah ruang. Tersusun daging yang menetes-netes dengan bibir merah membasahi kali laki-laki. Pada napasnya hidup sebuah kisah, dari nama-nama yang berebut dengan kabut dan lesatan air hujan. Kemudian menjelma takdir yang kehilangan misteri saat tersibak dahi orang mati.
       Sejak malam itu, dibulan ketujuh  kisah-kisah ditumpuk di atas helai-helai rambut para nelayan. Dan gulungan ombak mengabarkan: Malam adalah penantian bagi keresahan. Di keremangannya, Tuhan sudah terbeli.


-Ahmad Dzikron Haikal, lahir di Demak, 7 Mei 1987, dan tinggal di Banyumanik, Semarang. Guru SMP IT PAPB dan mahasiswa Pascasarjana Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas PGRI Semarang ini bergiat di Sastra Malam Junat Klinik Art.


Sumber : Koran Suara Merdeka edisi 11 Maret 2018 hal 18

0 Response to "Kumpulan Puisi 2018 Karya Ahmad Dzikron Haikal"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel